View project Read more
















Senang sekali ternyata cukup banyak yang merespon Angklung 100% Indonesia. Rata- rata ingin menjadikannya kartu pos bahkan ada yang kartu nama. 
Buat saya sama sekali tidak masalah. 
Asalkan...bukan untuk keperluan komersial!
Kalau untuk kartu pos saya mohon cantumkan blog ini sebagai sumbernya. Dan kalau untuk kartu nama, saya kembalikan kebijakannya kepada si pembuat kartu nama. Kalau memungkinkan mencantumkan sumbernya, ya mohon dicantumkan. kalaupun tidak saya masih bisa memahami karena keterbatasan bidang.
Sekali lagi, selama tidak untuk keperluan komersial dipersilahkan menggunakan ilustrasi angklung tersebut.
Oh ya, satu lagi, sedikit berlelah-lelah, saya mohon hasil penggunaan ilustrasi Angklung 100% Indonesia supaya difoto dan dikirimkan ke email saya. Buat dokumentasi saya.

Terima kasih atas perhatiannya dan terima kasih juga sudah mau mengenalkan Indonesia ke dunia luar.


Salam.

0 comments
Seperti yang pernah saya ceritakan di posting sebelumnya tentang Pa Cingkam.
Tokoh rekaan saya ini idenya berasal dari cerita pengantar tidur alm. nenek saya dulu. Beliau bercerita tentang tokoh bernama 'Merek Cingkam', tokoh yang pintar-pintar bodoh. Dengan pekerjaan utamanya 'Perlanja Sira' dan pekerjaan sampingannya serabutan.

Berawal dari tokoh itu kemudian lahirlah Pa Cingkam atau Pak Cingkam. Pernah terbit teratur di tabloid bulanan SORAMIDO.

Profesi Pa Cingkam disini adalah seorang petani. Petani yang lugu dan hobi komentar sana sini.






Gambar di atas, Pa Cingkam yang masih dalam proses sketsa ulang. Belum selesai. 
Ada beberapa bagian yang saya ganti.
Hasil akhirnya nanti akan saya posting kembali.


0 comments
Beberapa waktu yang lalu saya teringat cerita pengantar tidur yang dulu diceritakan alm. nenek saya, waktu saya masih kecil tentunya. Dua nenek saya, keduanya hobi bercerita kepada cucu-cucunya. Dan ajaibnya, tokoh-tokoh yang diceritakan beliau berdua tak pernah sama. Jadi saya nyaris tak mengalami pengulangan cerita. :-)

Salah satunya tentang tokoh yang bernama 'Merek Cingkam'. 

Berdasarkan sisa-sisa ingatan saya, tokoh ini 'pin-pin bo' alias 'pintar-pintar bodoh'. 
Silahkan menterjemahkan sendiri konsep 'pin-pin bo' ini... :-)
Pekerjaannya srabutan, terkadang kernet bus, terkadang perlanja sira.
Perlanja sira ini adalah salah satu profesi Orang Karo yang sudah punah.
Jelasnya profesi perlanja sira ini bisa anda lihat di blog kutaraya0405.
Seperti inilah Perlanja Sira itu

Iseng-iseng saya mencoba bertanya pada mbah Google tentang 'Merek Cingkam' ini.
Dan hasilnya adalah : hutan lindung Merek Cingkam, desa Pasar Baru, kecamatan Sibolangit, Deli Serdang. Tak ada satupun yang bercerita tentang si tokoh seperti yang diceritakan nenek saya. Saya penasaran, apakah nenek-nenek lain (dari suku Karo tentunya) tak menceritakan tokoh Merek Cingkam ini pada cucunya? Sehingga tak ada yang menceritakan kembali pada generasi sekarang.

Nah, saya pernah membuat tokoh kartun yang inspirasinya saya ambil dari tokoh Merek Cingkam ini. Saya beri nama Pa Cingkam. Kartun ini pernah dimuat rutin di tabloid Karo Soramido. Sayangnya karena kesibukan, saya sudah lama tak mengirim kartun Pa Cingkam ini ke Soramido (maafkan saya Soramido...).
Saya berencana redesign ulang tokoh Pa Cingkam ini. Karena itu, buat yang mengetahui cerita tentang tokoh Merek Cingkam ini, mohon informasinya dibagikan. Saya sangat mengharapkan informasinya.
Dan buat yang penasaran sosok kartun Pa Cingkam yang saya buat dipersilahkan melihatnya di label cartoon strip di bog ini. Atau bisa melihat salah satunya disini.








0 comments

(Camping Illustration)

Beberapa ilustrasi petualangan (adventure illustration) yang saya buat. 
Ilustrasi ini tadinya mau dipasang di botol minum dan mug.
Ilustrasinya terdiri dari 3 jenis aktifitas. 
Camping illustration (atas), Cycling IllustrationClimbing Illustration (bawah).

(Cycling Illustration)

(Climbing Illustration)


0 comments
Ini beberapa kartun lagi kelanjutan dari sebelumnya.
Dan saya coba juga tampilkan beberapa info tentang angklung dari Wikipedia.





Angklung adalah alat musik multitonal (bernada ganda) yang secara tradisional berkembang dalam masyarakat berbahasa Sunda di Pulau Jawa bagian barat. Alat musik ini dibuat dari bambu, dibunyikan dengan cara digoyangkan (bunyi disebabkan oleh benturan badan pipa bambu) sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan nada 2, 3, sampai 4 nada dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil. 
Laras (nada) alat musik angklung sebagai musik tradisi Sunda kebanyakan adalah salendro dan pelog.
Angklung terdaftar sebagai Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Non bendawi Manusia dari UNESCO sejak November 2010.

Asal-usul
Tidak ada petunjuk sejak kapan angklung digunakan, tetapi diduga bentuk primitifnya telah digunakan dalam kultur Neolitikum yang berkembang di Nusantara sampai awal penanggalan modern, sehingga angklung merupakan bagian dari relik pra-Hinduisme dalam kebudayaan Nusantara.
Catatan mengenai angklung baru muncul merujuk pada masa Kerajaan Sunda (abad ke-12 sampai abad ke-16). 

Asal usul terciptanya musik bambu, seperti angklung berdasarkan pandangan hidup masyarakat Sunda yang agraris dengan sumber kehidupan dari padi (pare) sebagai makanan pokoknya. 
Hal ini melahirkan mitos kepercayaan terhadap Nyai Sri Pohaci sebagai lambang Dewi Padi pemberi kehidupan (hirup-hurip). 
Masyarakat Baduy, yang dianggap sebagai sisa-sisa masyarakat Sunda asli, menerapkan angklung sebagai bagian dari ritual mengawali penanaman padi. Permainan angklung gubrag di Jasinga, Bogor, adalah salah satu yang masih hidup sejak lebih dari 400 tahun lampau. 
Kemunculannya berawal dari ritus padi. Angklung diciptakan dan dimainkan untuk memikat Dewi Sri turun ke bumi agar tanaman padi rakyat tumbuh subur.
Jenis bambu yang biasa digunakan sebagai alat musik tersebut adalah bambu hitam (awi wulung) dan bambu putih (awi temen). Tiap nada (laras) dihasilkan dari bunyi tabung bambunya yang berbentuk bilah (wilahan) setiap ruas bambu dari ukuran kecil hingga besar.

Dikenal oleh masyarakat sunda sejak masa kerajaan Sunda, di antaranya sebagai penggugah semangat dalam pertempuran. Fungsi angklung sebagai pemompa semangat rakyat masih terus terasa sampai pada masa penjajahan, itu sebabnya pemerintah Hindia Belanda sempat melarang masyarakat menggunakan angklung, pelarangan itu sempat membuat popularitas angklung menurun dan hanya di mainkan oleh anak- anak pada waktu itu.

Selanjutnya lagu-lagu persembahan terhadap Dewi Sri tersebut disertai dengan pengiring bunyi tabuh yang terbuat dari batang-batang bambu yang dikemas sederhana yang kemudian lahirlah struktur alat musik bambu yang kita kenal sekarang bernama angklung. Demikian pula pada saat pesta panen dan seren taun dipersembahkan permainan angklung. Terutama pada penyajian Angklung yang berkaitan dengan upacara padi, kesenian ini menjadi sebuah pertunjukan yang sifatnya arak-arakan atau helaran, bahkan di sebagian tempat menjadi iring-iringan Rengkong dan Dongdang serta Jampana (usungan pangan) dan sebagainya.

Dalam perkembangannya, angklung berkembang dan menyebar ke seantero Jawa, lalu ke Kalimantan dan Sumatera. Pada 1908 tercatat sebuah misi kebudayaan dari Indonesia ke Thailand, antara lain ditandai penyerahan angklung, lalu permainan musik bambu ini pun sempat menyebar di sana.

Bahkan, sejak 1966, Udjo Ngalagena, tokoh angklung yang mengembangkan teknik permainan berdasarkan laras-laras pelog, salendro, dan madenda — mulai mengajarkan bagaimana bermain angklung kepada banyak orang dari berbagai komunitas.




1 comments
Beberapa waktu lalu saya menemukan web ini 'Angklung is Indonesia', jadi teringat beberapa kartun yang pernah saya buat tentang angklung.
Jadi...sekalian mendukung gerakan 'Angklung is Indonesia', kartun yang saya buat di-upload disini.
Buat 'tetangga yang katanya serumpun', yang suka mengaku-ngaku mudah-mudahan menyadari kesalahannya dan tidak melakukannya lagi... :-)


'Angklung 100% Indonesia!'





Buat yang tertarik menjadikannya atribut Kampanye Angklung, diijinkan copas, tetapi dimohon mencantumkan sumbernya ya. 

Sekali lagi khusus Kampanye Angklung, tidak untuk kegiatan komersial!

Semoga akan semakin banyak orang yang tergerak dan peduli dengan warisan budaya Indonesia, salah satunya Angklung ini.


8 comments




Terinspirasi dari beberapa karakter, DORA, DIEGO dan SI BOLANG.
Hasilnya seperti gambar di atas.
Karakternya ya 'anak petualang'...namanya sementara...mmm... SI ALANG!
Hehehe...praktis...kalau nanti saya terpikir buat komik stripnya namanya bisa direvisi lagi.

Sebelum tercipta gambar di atas, saya sempat terbentur karakter mata-nya.

Coba lihat gambar di bawah. 
Gambar no. 1 mirip sekali DIEGO ya. Hanya gara-gara karakter matanya seperti itu.



2 comments






Di kantor lagi blank...kosong...tak tahu mau bikin apa.
Iseng lihat-lihat file lama, eh...ternyata dulu sempat bikin mascot ini.
Ini juga dulu hasil iseng-iseng bikin tokoh kartun dari karakter sapi.
Belum punya nama yang jelas...tapi untuk sementara bolehlah saya beri nama 'COW MOO'.
Detail karakternya...waduh, lupa euy... Nanti kalau sudah ingat diupdate lagi disini.

Oh ya...beginilah sketsa awalnya



0 comments

Ide ilustrasi ini terlintas pada saat melihat prilaku para biker di jalanan.

Luar biasa! Rata-rata tak sabaran, memiliki kemampuan akrobatik yang mumpuni (seolah-olah memiliki nyawa rangkap). 
Misalnya saja, selap-selip diantara mobil dengan kecepatan tinggi, bertelepon dan ber-SMS sambil berkenderaan...ckckckck...bayangkan saja sebelah tangan menggenggam mobile phone, sebelah lagi menggenggam lagi stang/kemudi, sambil konsentrasi terpecah antara SMSan/telepon dengan memperhatikan jalan.

Sadarkah kalau itu bisa berakibat fatal? Nyawa taruhannya.
Ditambah lagi faktor jalan raya. Helm sih sudah SNI tapi jalan rayanya belum SNI.
Kondisi jalan raya layaknya untuk off road, berlubang-lubang!
Lengkaplah sudah tantangan para biker ini, sedangkan perlindungan minim!

Nah, tiba-tiba saja terlintas, bagaimana jika perlindungan para biker ini seperti gambar di atas?
2 comments
Jumat, 30 April 2010



Sebenarnya tak perlu dibahas lagi, sudah jelas Angklung itu berasal dari INDONESIA dan MILIK INDONESIA. Dirunut dari sejarah juga sudah pasti begitu.

Tertarik untuk mengilustrasikannya. Warisan sejarah, warisan budaya. Tugas kita & anak-cucu untuk terus melestarikannya. Mudah-mudahan selanjutnya tidak ada yang mengaku-aku lagi...

Masih ada beberapa ilustrasi lagi, kesempatan berikutnya akan saya tampilkan lagi... ^__^
6 comments
Selasa, 09 Februari 2010



'Bongkar-bongkar' hardisk...
Ada planning buat series ini di kantor tapi karena pertimbangan satu dan lain hal akhirnya dialihkan ke 'brother brand'.

Tapi masih top secret... ^__^
Tunggu tanggal mainnya, nanti ditampilkan juga deh disini...
7 comments
10 Agustus 2009



Saya sebenarnya berharap setelah 'peristiwa' itu Tegar tidak seperti judul yang saya tulis di atas. Tegar harus tetap tegar! Masa depannya masih panjang. Bagi belum tahu peristiwanya silahkan KLIK disini. Peristiwa yang terjadi sekitar bulan Juli yang lalu tak jauh-jauh dari Hari Anak Nasional yang jatuh pada tanggal 23 Juli.

Kaki Tegar diamputasi ayah tirinya di rel kereta api!
Mengutuk habis-habisan! Kejam, biadab! Itu reaksi pertama saya pada saat pertama sekali menontonnya di TV. Benar-benar tak terbayangkan seorang ayah tega melakukan ini pada anaknya sekalipun itu anak tiri.
Entah dimana nuraninya...

Mengelus dada...duh...anak Indonesia betapa malang nasibmu...
Tak akan lepas dari ingatan peristiwa Arie Hanggara, nyawanya lepas dari raga karena perbuatan orang tuanya sendiri. Ternyata peristiwa seperti ini tak berhenti sampai disitu saja. Entah sudah berapa banyak layar kaca kita ataupun surat kabar kita dihiasi peristiwa penyiksaan anak. Bahkan bisa jadi masih banyak Arie yang lain yang mungkin luput dari perhatian kita.
Tak usah jauh-jauh, di jalan raya berapa banyak anak-anak yang hidup dari meminta-minta baik karena suruhan orang tua maupun yang dikoordinir oleh sekelompok preman jalanan.
Belum cukup itu...masih ingat buruh anak yang bekerja di jermal lepas pantai (Beberapa jermal terdapat di kawasan Deli Serdang, Sumatera Utara. Perjuangan anak-anak jermal ini kemudian diangkat ke layar lebar dengan judul “JERMAL” yang diproduksi oleh Ecco Films, disutradarai Rayya Makarim dan Utawa Tresno, yang memiliki kisah lebih miris dari Laskar Pelangi)
Masih ada lagi...menikahi anak di bawah umur (Dengan alasan apapun jelas-jelas itu merupakan pelanggaran hak asasi anak)

Kalau semuanya itu dideretkan...miris...inilah potret anak Indonesia...



6 comments
27 Juli 2009





Baru-baru ini mendesain packaging EIGER WALLET.
Buat yang beli wallet-nya jangan lupa lihat belakang packagingnya ya...ada pesan moral disana...
Buat yang belum beli...beli dulu deh wallet-nya ntar ada 'bonus' kartun di belakang packagingnya...hehehe...



PESAN MORALNYA...
Ikut menyelamatkan Bumi ini dengan cara menghemat pemakaian kertas.
Kertas itu kan memiliki dua permukaan polos (bolak-balik), pergunakanlah dengan sebaik-baiknya. Dengan berhemat dalam pemakaian kertas kita ikut menyelamatkan bumi...wiiiiih...
11 comments