View project Read more
















Senang sekali ternyata cukup banyak yang merespon Angklung 100% Indonesia. Rata- rata ingin menjadikannya kartu pos bahkan ada yang kartu nama. 
Buat saya sama sekali tidak masalah. 
Asalkan...bukan untuk keperluan komersial!
Kalau untuk kartu pos saya mohon cantumkan blog ini sebagai sumbernya. Dan kalau untuk kartu nama, saya kembalikan kebijakannya kepada si pembuat kartu nama. Kalau memungkinkan mencantumkan sumbernya, ya mohon dicantumkan. kalaupun tidak saya masih bisa memahami karena keterbatasan bidang.
Sekali lagi, selama tidak untuk keperluan komersial dipersilahkan menggunakan ilustrasi angklung tersebut.
Oh ya, satu lagi, sedikit berlelah-lelah, saya mohon hasil penggunaan ilustrasi Angklung 100% Indonesia supaya difoto dan dikirimkan ke email saya. Buat dokumentasi saya.

Terima kasih atas perhatiannya dan terima kasih juga sudah mau mengenalkan Indonesia ke dunia luar.


Salam.

0 comments
Seperti yang pernah saya ceritakan di posting sebelumnya tentang Pa Cingkam.
Tokoh rekaan saya ini idenya berasal dari cerita pengantar tidur alm. nenek saya dulu. Beliau bercerita tentang tokoh bernama 'Merek Cingkam', tokoh yang pintar-pintar bodoh. Dengan pekerjaan utamanya 'Perlanja Sira' dan pekerjaan sampingannya serabutan.

Berawal dari tokoh itu kemudian lahirlah Pa Cingkam atau Pak Cingkam. Pernah terbit teratur di tabloid bulanan SORAMIDO.

Profesi Pa Cingkam disini adalah seorang petani. Petani yang lugu dan hobi komentar sana sini.






Gambar di atas, Pa Cingkam yang masih dalam proses sketsa ulang. Belum selesai. 
Ada beberapa bagian yang saya ganti.
Hasil akhirnya nanti akan saya posting kembali.


0 comments
Beberapa waktu yang lalu saya teringat cerita pengantar tidur yang dulu diceritakan alm. nenek saya, waktu saya masih kecil tentunya. Dua nenek saya, keduanya hobi bercerita kepada cucu-cucunya. Dan ajaibnya, tokoh-tokoh yang diceritakan beliau berdua tak pernah sama. Jadi saya nyaris tak mengalami pengulangan cerita. :-)

Salah satunya tentang tokoh yang bernama 'Merek Cingkam'. 

Berdasarkan sisa-sisa ingatan saya, tokoh ini 'pin-pin bo' alias 'pintar-pintar bodoh'. 
Silahkan menterjemahkan sendiri konsep 'pin-pin bo' ini... :-)
Pekerjaannya srabutan, terkadang kernet bus, terkadang perlanja sira.
Perlanja sira ini adalah salah satu profesi Orang Karo yang sudah punah.
Jelasnya profesi perlanja sira ini bisa anda lihat di blog kutaraya0405.
Seperti inilah Perlanja Sira itu

Iseng-iseng saya mencoba bertanya pada mbah Google tentang 'Merek Cingkam' ini.
Dan hasilnya adalah : hutan lindung Merek Cingkam, desa Pasar Baru, kecamatan Sibolangit, Deli Serdang. Tak ada satupun yang bercerita tentang si tokoh seperti yang diceritakan nenek saya. Saya penasaran, apakah nenek-nenek lain (dari suku Karo tentunya) tak menceritakan tokoh Merek Cingkam ini pada cucunya? Sehingga tak ada yang menceritakan kembali pada generasi sekarang.

Nah, saya pernah membuat tokoh kartun yang inspirasinya saya ambil dari tokoh Merek Cingkam ini. Saya beri nama Pa Cingkam. Kartun ini pernah dimuat rutin di tabloid Karo Soramido. Sayangnya karena kesibukan, saya sudah lama tak mengirim kartun Pa Cingkam ini ke Soramido (maafkan saya Soramido...).
Saya berencana redesign ulang tokoh Pa Cingkam ini. Karena itu, buat yang mengetahui cerita tentang tokoh Merek Cingkam ini, mohon informasinya dibagikan. Saya sangat mengharapkan informasinya.
Dan buat yang penasaran sosok kartun Pa Cingkam yang saya buat dipersilahkan melihatnya di label cartoon strip di bog ini. Atau bisa melihat salah satunya disini.








0 comments
Ini beberapa kartun lagi kelanjutan dari sebelumnya.
Dan saya coba juga tampilkan beberapa info tentang angklung dari Wikipedia.





Angklung adalah alat musik multitonal (bernada ganda) yang secara tradisional berkembang dalam masyarakat berbahasa Sunda di Pulau Jawa bagian barat. Alat musik ini dibuat dari bambu, dibunyikan dengan cara digoyangkan (bunyi disebabkan oleh benturan badan pipa bambu) sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan nada 2, 3, sampai 4 nada dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil. 
Laras (nada) alat musik angklung sebagai musik tradisi Sunda kebanyakan adalah salendro dan pelog.
Angklung terdaftar sebagai Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Non bendawi Manusia dari UNESCO sejak November 2010.

Asal-usul
Tidak ada petunjuk sejak kapan angklung digunakan, tetapi diduga bentuk primitifnya telah digunakan dalam kultur Neolitikum yang berkembang di Nusantara sampai awal penanggalan modern, sehingga angklung merupakan bagian dari relik pra-Hinduisme dalam kebudayaan Nusantara.
Catatan mengenai angklung baru muncul merujuk pada masa Kerajaan Sunda (abad ke-12 sampai abad ke-16). 

Asal usul terciptanya musik bambu, seperti angklung berdasarkan pandangan hidup masyarakat Sunda yang agraris dengan sumber kehidupan dari padi (pare) sebagai makanan pokoknya. 
Hal ini melahirkan mitos kepercayaan terhadap Nyai Sri Pohaci sebagai lambang Dewi Padi pemberi kehidupan (hirup-hurip). 
Masyarakat Baduy, yang dianggap sebagai sisa-sisa masyarakat Sunda asli, menerapkan angklung sebagai bagian dari ritual mengawali penanaman padi. Permainan angklung gubrag di Jasinga, Bogor, adalah salah satu yang masih hidup sejak lebih dari 400 tahun lampau. 
Kemunculannya berawal dari ritus padi. Angklung diciptakan dan dimainkan untuk memikat Dewi Sri turun ke bumi agar tanaman padi rakyat tumbuh subur.
Jenis bambu yang biasa digunakan sebagai alat musik tersebut adalah bambu hitam (awi wulung) dan bambu putih (awi temen). Tiap nada (laras) dihasilkan dari bunyi tabung bambunya yang berbentuk bilah (wilahan) setiap ruas bambu dari ukuran kecil hingga besar.

Dikenal oleh masyarakat sunda sejak masa kerajaan Sunda, di antaranya sebagai penggugah semangat dalam pertempuran. Fungsi angklung sebagai pemompa semangat rakyat masih terus terasa sampai pada masa penjajahan, itu sebabnya pemerintah Hindia Belanda sempat melarang masyarakat menggunakan angklung, pelarangan itu sempat membuat popularitas angklung menurun dan hanya di mainkan oleh anak- anak pada waktu itu.

Selanjutnya lagu-lagu persembahan terhadap Dewi Sri tersebut disertai dengan pengiring bunyi tabuh yang terbuat dari batang-batang bambu yang dikemas sederhana yang kemudian lahirlah struktur alat musik bambu yang kita kenal sekarang bernama angklung. Demikian pula pada saat pesta panen dan seren taun dipersembahkan permainan angklung. Terutama pada penyajian Angklung yang berkaitan dengan upacara padi, kesenian ini menjadi sebuah pertunjukan yang sifatnya arak-arakan atau helaran, bahkan di sebagian tempat menjadi iring-iringan Rengkong dan Dongdang serta Jampana (usungan pangan) dan sebagainya.

Dalam perkembangannya, angklung berkembang dan menyebar ke seantero Jawa, lalu ke Kalimantan dan Sumatera. Pada 1908 tercatat sebuah misi kebudayaan dari Indonesia ke Thailand, antara lain ditandai penyerahan angklung, lalu permainan musik bambu ini pun sempat menyebar di sana.

Bahkan, sejak 1966, Udjo Ngalagena, tokoh angklung yang mengembangkan teknik permainan berdasarkan laras-laras pelog, salendro, dan madenda — mulai mengajarkan bagaimana bermain angklung kepada banyak orang dari berbagai komunitas.




1 comments
Beberapa waktu lalu saya menemukan web ini 'Angklung is Indonesia', jadi teringat beberapa kartun yang pernah saya buat tentang angklung.
Jadi...sekalian mendukung gerakan 'Angklung is Indonesia', kartun yang saya buat di-upload disini.
Buat 'tetangga yang katanya serumpun', yang suka mengaku-ngaku mudah-mudahan menyadari kesalahannya dan tidak melakukannya lagi... :-)


'Angklung 100% Indonesia!'





Buat yang tertarik menjadikannya atribut Kampanye Angklung, diijinkan copas, tetapi dimohon mencantumkan sumbernya ya. 

Sekali lagi khusus Kampanye Angklung, tidak untuk kegiatan komersial!

Semoga akan semakin banyak orang yang tergerak dan peduli dengan warisan budaya Indonesia, salah satunya Angklung ini.


8 comments

Pernah terpikir menciptakan karakter kartun ini.
BINGO! Itu namanya.
Kenapa Bingo? Apa artinya? Hehehe...itu yang pertama terpikir begitu melihat wajahnya.
Detailnya menyusul kalau sudah terpikir... ^_^

Bingo, Si Pelaut gagal... Bercita-cita jadi pelaut tapi punya masalah...mabuk laut! Mana ada pelaut mabuk laut... Tokoh favoritnya Popeye.
Sok tahu, norak dan rada kampungan.
Selanjutnya? Entahlah...



0 comments
27 Juli 2009





Baru-baru ini mendesain packaging EIGER WALLET.
Buat yang beli wallet-nya jangan lupa lihat belakang packagingnya ya...ada pesan moral disana...
Buat yang belum beli...beli dulu deh wallet-nya ntar ada 'bonus' kartun di belakang packagingnya...hehehe...



PESAN MORALNYA...
Ikut menyelamatkan Bumi ini dengan cara menghemat pemakaian kertas.
Kertas itu kan memiliki dua permukaan polos (bolak-balik), pergunakanlah dengan sebaik-baiknya. Dengan berhemat dalam pemakaian kertas kita ikut menyelamatkan bumi...wiiiiih...
11 comments
08 Juni 2009




Setelah sekian lama absen ngeblog. Ada kasus yang bisa jadi ide 'ngartun', Manohara & ibu Prita.
Kalau yang pertama..ah, males banget, terlalu banyak bumbu, seperti sinetron. Lagipula berawal dari kesalahan sendiri. Nah, kalau kasus Ibu Prita, bukan sekedar berurai air mata tapi juga bikin geram karena ternyata di negara yang sedang belajar berdemokrasi keadilan itu 'abu-abu'! Keadilan buat siapa dulu?

Buat warga negara di negara yang sedang belajar berdemokrasi, berhati-hatilah menyuarakan suaramu sendiri.
Buat setiap konsumen di negara yang sedang belajar berdemokrasi, ternyata konsumen itu bukan raja! Kalau anda merasa dirugikan terpaksalah berbesar hati dan mengelus dada.
Buat setiap RS di negara yang sedang belajar berdemokrasi, ingatlah anda adalah seorang tabib bukan jaksa penuntut!
Buat para bloger dan miliser di negara yang sedang belajar berdemokrasi, memang kita bersuara di dunia maya tapi hukumannya ternyata 100% nyata!
Buat para koruptor di negara yang sedang belajar berdemokrasi, selamat! beruntunglah anda! walaupun sudah merugikan negara dengan nilai M dan T, anda bebas! Bandingkan dengan seorang ibu yang hanya bersuara di dunia maya dituntut 6 tahun...
Buat negara yang sedang belajar berdemokrasi, tega-teganya memisahkan seorang ibu dari anak-anaknya atas nama demokrasi.

Ahhh...namanya juga sedang belajar ya...
tapi...
mau sampai kapan begini terus...


4 comments


Ikutan kontes kartun ini..17th EURO-KARTOENALE KRUISHOUTEM 2009

Bela-belain dan terburu-buru..hasilnya memang tidak maksimal.
Cerita dibalik ikut kompetisi ini...
Tahu kompetisi ini dari Irancartoon dan sempat berniat tak ikutan tapi...karena dulu pernah ikutan kartun ini..eh..ternyata dikirimin lagi formulirnya..jadilah ikutan.
Pengiriman lewat pos. Ini juga jadi pengalaman tersendiri. Entah kenapa waktu mengirim kartun ini (lewat kantor pos pusat Bandung) antrinya luar biasa! Padahal pakai kilat khusus!
Dan ternyata..seminggu kemudian di webnya ada info akhirnya diperbolehkan mengirim via e-mail..halah! Ampun deh..knapa tidak dari awal...

Begitulah...

4 comments


Dulu..hand phone/mobile phone/hp/hape adalah barang mewah, ingat waktu jaman mobile phone masih sebesar batu bata. Rasanya cool banget bawa-bawa mobile phone walaupun pasti susah disimpannya. Sekarang dengan ukuran seperti sekarang ini hape bukan barang mewah lagi, mudah dibawa kemana-mana, operatornya banyak dan harganya murah. Sekarang ini siapa saja bisa punya hape, sampai-sampai ada iklan "hari gini nggak punya hand phone???". Adalah memalukan kalau sampai nggak punya hand phone. Ojeg saja sekarang ini bisa dipesan via hape bahkan di Medan kabarnya 'betor' (becak motor) pun dipesan lewat hape. Pengemudi ojeg & betor ini masing-masing punya hape untuk berhubungan dengan pelanggannya.
Sekarang ini rata-rata tiap orang minimal punya 1 hape bahkan ada yang punya 2-3 buah. Bayangkan ada berapa penduduk Indonesia ini, lebih luas lagi bayangkan ada berapa penduduk dunia ini, masing-masing punya 1-2 buah hape. Berapakah jumlah hape beredar di dunia ini? Belum lagi tingkat perputarannya lumayan cepat. Selalu saja ada hape keluaran terbaru.
Kemanakah semua hape ini akan berakhir apabila sudah tak terpakai? Didaur ulang atau dibuang begitu saja?
Polusi lagi deh...
8 comments


Menjelang Pemilu 2009 ini coba lihat sekitar kita, ada spanduk, baliho, poster, selebaran, dan banyak lagi. Isinya ada mulai dari ajakan, mohon doa restu, sampai peringatan jangan salah pilih. Masalahnya semua spanduk, baliho, poster dan lain sebagainya itu dipajang bukan pada tempat yang tepat. Asal pasang. Yang penting kelihatan, tidak peduli bikin sumpek mata! Polusi visual! Bertebaran di sepanjang jalan saingan dengan iklan (iseng-iseng coba perhatikan gaya calon wakil rakyat kita itu di poster ataupun selebaran..semuanya sama! sengihnampakgigi).
Sampai-sampai pohonpun dikorbankan, tak jarang poster-poster itu dipaku ke batang pohon. Belum lagi bendera-bendera parpol pendukung calon wakil rakyat kita ini nangkring dengan megahnya di puncak-puncak pohon itu.

Bagaimana ini..belum jadi wakil rakyat saja anda-anda ini sudah bikin susah..

Silahkan ber-kampanye tapi perhatikan tempatnya donk! Jangan cuma mau 'suara' kami tapi hargai juga 'mata' kami..
2 comments


Semenjak heboh 'kartun nabi' yang bermuatan pelecehan agama itu, kartun jadi naik daun. Iseng-iseng searching 'kartun' pakai Mr. Google maka yang ditampilkan semuanya bermuatan 'kartun nabi' itu. Luar biasa!
Itulah makanya kartun bisa jadi dikatakan pedang bermata dua. Jika digunakan oleh pendekar kartun berwatak baik maka jadilah kartun yang bisa menghibur dan membuat dunia tersenyum. Tapi kalau jatuh ke tangan pendekar kartun berwatak jahat maka jadilah kartun itu menaikkan temperatur emosi dan mengundang hujatan plus makian. Ujung-ujungnya..bisa konflik SARA.

Jadi..wahai saudara sekartunis, berhati-hatilah menggunakan kartunmu.
Pergunakan sebaik-baiknya ELEMEN KEDUA-MU (Lebih jelasnya silahkan baca posting sebelumnya sengihnampakgigi)

Salam kartun
15 comments


Ooo..ternyata begitu ya anatomi kerja kartunis.. Kartunis itu memang manusia unik.
Silahkan dibaca dan direnungkan.


Diambil dari internet dan diolah kembali menggunakan Photoshop


MEMBEDAH ANATOMI KERJA KARTUNIS

Oleh Darminto M Sudarmo

SEMINGGU sebelum acara diskusi kartunis (Lektur Terbuka: Kartunis dan Tugasnya oleh GM Sudarta dan Lat) di Taman Ismail Marzuki, 12 Juli 2003, saya didaulat kartunis Pramono (Ketua Umum Pakarti-Persatuan Kartunis Indonesia) agar bersedia memandu acara diskusi tersebut, disponsori oleh Pusat Kebudayaan Jepang, Jakarta. Bagaimana mungkin saya dapat menolak "perintah" beliau, salah satu tokoh kartunis senior negeri ini, apalagi bila itu ada kaitannya dengan sebuah momentum yang menarik; yakni bertemunya dua figur maestro kartunis Indonesia dan Malaysia, GM Sudarta dan Lat, yang seingat saya baru pertama kali dipertemukan dalam sebuah forum di Indonesia.

Gairah budaya pun semakin tumbuh, apalagi bila mengingat Indonesia sedang dilanda berbagai arus kepentingan yang membuat pening kepala, geli hati sekaligus jengkel karena UU Pilpres, Susduk, Hak DPR untuk menyandera, dan lain-lain yang begitu naif, ternyata bisa terjadi dan memang benar-benar terjadi.

Saya pun bersiap-siap mengumpulkan joke-joke "maut" agar dalam pelaksanaan diskusi dapat diarahkan ke suasana yang lebih "pedas" tapi segar dan eliminatif. Harapan saya, kendati hanya berlangsung selama dua jam saja, pertemuan dua jagoan itu bisa menjadi katarsis bagi semua yang hadir. Sejenak melupakan proses sejarah yang gerah, yang terjadi di negeri ini. Tambahan lagi, diskusi yang bertajuk : Kartunis dan Tugasnya bukankah tergolong tema ringan dan pasti akan penuh dengan canda dan derai tawa. Bayangan lucu yang terproyeksi dalam kepala saya, pasti para kartunis akan menjawab sambil berseloroh, "Tugas kartunis apa lagi? Tentu saja mencari nafkah buat keluarganya". Hadirin yang kaget akan merespons jawaban itu dengan gelak tawa dan tepuk tangan; betapa mewahnya bila suasana seperti itu bisa terjadi.

Logika seperti ini pula yang pernah dipakai Arswendo Atmowiloto, ketika menangkis pertanyaan secara ndugal, mengapa gerakan separatisme di Indonesia marak, bukan saja di Aceh, Maluku tapi juga di Papua? Jawaban Arswendo, PDI-P-lah yang harus bertanggung jawab, jelas-jelas Indonesia sudah lama merdeka, mengapa partai itu selalu meneriakkan yel-yel, "Merdekaaaa… Merdekaaaa!!!"

Arswendo memang Arswendo. Untuk mengamankan pernyataannya yang rada ndugal itu, dia berlindung di balik predikatnya sebagai seorang guyonis. Guyonis? Istilah gendeng apa pula ini? Tapi, secara gramatika, tidak salah. Guyon itu kata benda dan akhiran is, tak mau kalah dengan humoris, kartunis, lengkap kan edan-edanannya?

Maka, seperti yang sudah dijadwalkan, diskusi tentang kartun dan kartunis itu pun terjadilah…!

GM Sudarta, seperti yang sudah diduga, tampil piawai sebagai story teller yang memikat, runtut, terutama ketika menyampaikan "makalah"-nya berupa tumpukan gambar karikatur mahasiswa-mahasiswa Bandung pada tahun-tahun sekitar 1965-an, sesekali muncul leluconnya yang inspiratif, dan tetap dikemas dalam bingkai elegan. Lat yang tampaknya pendiam dan angker, setelah berbual-bual (berbicara) secara lugas, apa adanya, barulah muncul sepenggal demi sepenggal leluconnya. Hampir semua yang dia sampaikan berdasar pengalaman nyata. Namun, disusun secara bersilang tumpang sehingga setiap terjadi persinggungan logika, selalu muncul sesuatu yang mengagetkan dan menimbulkan tawa.

Persoalannya kemudian, diskusi tumbuh tidak sekadar mengobral tawa dan katarsis. Joke-joke maut yang sudah saya siapkan pun akhirnya tak relevan dimunculkan karena suasana telah berkembang sebagaimana yang dikehendaki takdir. Inti dari "makalah" GM Sudarta yang menggambarkan keberanian para kartunis (mahasiswa) saat itu yang demikian telak dan langsung membidik sasaran atau obyek, yakni Bung Karno, sebagai simbol rezim Orde Lama dan mendukung secara euforia kelahiran Orde Baru, pada akhirnya membuat para kartunis itu harus terkecoh, karena rezim yang baru pun, secara pelan tapi pasti mulai memasung kebebasan yang semula dijanjikan semanis madu itu. Pesta demokrasi pun usai sejak awal tahun 1980-an hingga Rezim Soeharto tumbang, tahun 1998.

Fakta itu mengingatkan saya pada buku Catatan Seorang Demonstran karya Soe Hok Gie.
Salah satu pernyataan Soe Hok Gie, yang juga hasil mengutip dari intelektual asing, (maaf, saya tak ingat namanya), seorang cendekiawan dilahirkan untuk memusuhi rezim yang korup; setelah rezim yang korup tumbang, maka akan muncul rezim baru. Rezim baru tak lama kemudian juga korup, sang cendekiawan pun memusuhi rezim yang baru. Demikian seterusnya. Maka takdir seorang cendekiawan akan selalu sendirian dan selalu sendirian dalam rezim yang bagaimana pun.

Sementara itu Lat banyak bercerita tentang dirinya yang tak berkantor di mana-mana, tetapi bekerja di rumah sebagai kartunis untuk harian New Straits Times, Malaysia. Seminggu tiga kali. Sebulan rata-rata 12 karikatur. Gambar-gambar itu juga dikirim via e-mail, sehingga Lat tak perlu hadir di kantor koran tersebut. Setelah berpuluh-puluh tahun malang-melintang di Kuala Lumpur, Lat merasa perlu balik ke kampung, Ipoh, untuk berbagai alasan. Di antaranya adalah memberi ruang bagi kemunculan kartunis-kartunis muda dan yang jelas suasana di kampung lebih nyaman : udara jauh lebih sehat dan sosialisasi dengan warga lebih hangat ; mungkin spirit kemanusiaan dan ketulusan lebih terasa daripada di kota.

Sesuatu yang menggembirakan, di luar dari proyeksi nakal saya, diskusi dua jam itu tak sengaja dapat menghadirkan simpul-simpul penting mengenai sosok manusia yang bernama kartunis. Khususnya yang berkaitan dengan sistematika berpikir, proses kreatif dalam berkarya, metodologi kerja dan motivasi pilihan profesi. Dari simpul-simpul tersebut bila disederhanakan, dalam diri seorang kartunis (tak peduli apakah ia seorang gag cartoonist, social cartoonist maupun political cartoonist) terdapat tiga elemen kompetensi yang satu dengan lainnya saling terkait.

Elemen pertama, kompetensi di bidang teknis/artistik
Seorangkartunis dengan sendirinya memiliki kemampuan teknis menggambar yang memadai. Dengan kata lain bila ia menggambar seekor kuda, maka siapapun yang melihat gambar itu akan mengatakan itu gambar kuda. Bukan kerbau, sapi atau jerapah. Bila seorang kartunis bermaksud menggambar kuda, tetapi yang tampak oleh orang banyak bukan gambar kuda, maka si kartunis dianggap gagal berkomunikasi. Itu sama dengan dia belum memiliki kompetensi di bidang teknis/artistik. Dan komunikasi kepada publik akan semakin kacau bila ternyata dari gambar yang menyimpang itu ketambahan lagi dengan kata-kata, bayangkan, betapa carut-marutnya kemungkinan komunikasi yang bisa terjadi kemudian.

Elemen kedua, kompetensi di bidang pengamatan
(jurnalis, kolumnis,
penulis, cerdik cendekia, ilmuwan dan sebagainya)
Seorang kartunis
dengan sendirinya adalah seorang yang memiliki kemampuan dalam mengamati berbagai masalah secara cermat dan akurat. Khususnya menyangkut detail dan substansi. Setelah diendapkan beberapa saat, kemudian ia membuat analisis-analisis. Membuat pertanyaan dan asumsi. Bahan berupa analisis ini untuk sementara dibiarkan menggantung menunggu proses yang ketiga.

Elemen ketiga, kompetensi di bidang lelucon (humoris/kreatif)
Seorang kartunis dengan sendirinya adalah seseorang yang memiliki sense of humor yang baik dan mampu menghasilkan lelucon yang baik pula; ia mampu melihat persoalan dari sudut pandang yang beda daripada masyarakat umum. Beda dalam konteks ini tidak sekadar lain, namun beda yang memiliki sejumlah alasan yang dapat dibenarkan.
Seperti karikatur karya GM Sudarta (Lihat Kompas, 12 Juli 2003), seorang narapidana berpakaian loreng duduk di singgasana nomor satu negeri ini dengan senyum lugu dan wajah tak berdosa. Proyeksi karikatur yang nyeleneh dan mengagetkan itu, tidak sekadar beda tapi berlandaskan alasan-alasan yang reasonable. Bila kurang jelas, buka UU Pilpres.

DI sisi lain, banyak rekan wartawan yang dengan penasaran mempertanyakan tentang sosok yang bernama kartunis itu. Bila dilihat sekilas performance mereka tenang, kadang justru cenderung pendiam, bahkan ada yang sangat pemalu, tidak suka sosialisasi dengan orang-orang yang belum dikenalnya secara mendalam. Tetapi, ketika tiba giliran mereka menggambar kartun, di situlah muncul ide-idenya yang edan dan ugal-ugalan. Ada virus apa sebenarnya di otak kartunis itu?
Pertanyaan bernada seloroh ini mudah-mudahan agak terjawab oleh asumsi tiga elemen di atas.

Bila dipikir-pikir, demikian seorang teman kartunis ngudarasa, mungkin masih lebih enak menjadi pelukis. Tugasnya adalah melukis. Boleh tidak peduli pada masalah-masalah terkini yang lagi hangat atau sudah basi. Boleh melukis yang obyeknya tidak harus lucu; sebaliknya, bebas mengungkapkan hal yang membuat orang bersedih hati.
Begitu juga dengan jurnalis, kolumnis, penulis, cerdik cendekia, ilmuwan dan sebagainya. Boleh bekerja dalam jalur job-nya tanpa perlu harus pintar menggambar atau melucu. Tak terkecuali pelawak atau humoris, tidak perlu harus pintar menggambar. Bukankah itu berarti bahwa secara esensial, kerja sebagai kartunis adalah kerja yang tidak ringan. Ia harus menggabungkan sedikitnya tiga kompetensi sekaligus, sebagaimana dijelaskan di atas.

Mengingat keadaan ini, saya sering bertanya-tanya dalam hati, inikah yang menjadi penyebab mengapa jumlah kartunis negeri ini dari waktu ke waktu terus menyurut? Apalagi bila dibandingkan dengan jumlah pelukis, yang angkanya dari waktu ke waktu justru makin bertambah.
Catatan sementara yang ada pada saya, para kartunis yang tidak pernah lagi mengartun di antaranya adalah: Harmoko, Harry Pede, Oet, Tris Sakeh, SNS, Meru Sudarta, Julius Pour, T Nurjito, Gun R, Mr Zaggy, Jaya Suprana, Ramli Badrudin, Basnendar, Anwar Rosyid, Odios (saya sendiri), dan masih banyak rekan lain di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Solo, Surabaya, dan Bali, yang namanya tidak dapat saya sebutkan satu per satu.

Sementara itu, kartunis-kartunis Indonesia yang masih setia berkarya, mungkin cukup banyak, namun relatif sedikit bila dibandingkan jumlah pelukis/perupa yang tumbuh di negeri ini. Trio jagoan Indonesia yang sudah tidak asing lagi dan belum tergoyahkan eksistensinya adalah: GM Sudarta, Dwi Koendoro dan Pramono. Ada satu kartunis kawakan, yang lebih senior dari mereka bertiga, kendati tidak spesifik memiliki media (terutama di zaman Orde Baru) namun tetap berkarya, yaitu Sibarani. Almarhum Arwah Setiawan menempatkan Sibarani sebagai salah satu sosok karikaturis paling fenomenal pada zamannya.

Dari angkatan yang lebih muda lagi, memang terdapat nama-nama seperti: Non-O, Gesi Goran, Gatote, Rahmat Riyadi, T Riyadi, tetapi nama-nama seperti Priyanto S dan T Soetanto dari Bandung yang karyanya banyak merajalela di media Jakarta, siapa bisa menafikan kehadiran mereka? Di kawasan lain, kartunis Jitet Koestana yang sering menang lomba di luar negeri, Jango yang punya komunitas penerbitan kartun (humor) di Bali, Tony Tantra yang terus berkarya dalam kemisteriusannya, M Najib, yang lugu dan lucu seperti "Inul", Ifoed yang rajin mengembangkan kartun ke advertensi, adalah fenomena- fenomena baru yang tak dapat dianggap enteng kiprahnya. Dalam perkembangannya, kartun ternyata tidak hanya menjadi warga dari seni grafis. Ia kini telah berkembang ke seni hias kaus, interior, instalasi, animasi dan bukan tak mungkin bermutasi ke seni murni.

PADA akhirnya, baik GM Sudarta maupun Lat yang siang itu 12 Juli 2003 menjadi "ayah" bagi Oom Pasikom dan Si Mamat (Kampung Boy) harus rela buka kartu dan berendah hati bahwa hal-hal yang berkaitan dengan sistematika berpikir, proses kreatif dalam berkarya, metodologi kerja dan motivasi pilihan profesi, tetap perlu mengaitkannya dengan tatanan sosial dan sistem nilai yang berlaku di masyarakat. Wajarlah bila dalam berkarya mereka harus mengkalkulasi itu semua supaya karya dan pesannya dapat efektif sampai ke sasaran yang dituju. Artinya, bahwa kartun yang berhasil itu indikasinya adalah dapat membuat senang si pembuat, yang membaca/menonton dan pihak yang dijadikan obyek dalam karikatur/kartun. Dengan kata lain, untuk sampai pada situasi itu, mereka perlu menempatkan strategi self censorship sedini mungkin. Setidaknya sikap itu yang diperlihatkan GM Sudarta dan Lat tanpa tedheng aling-aling. Tanpa perlu merasa kurang heroik. Toh, bila seorang kartunis berhasil menyampaikan early warning, pesan atau peringatan awal atas suatu masalah atau persoalan, sebenarnya, itu sudah lebih dari cukup. Bahkan, GM Sudarta mengutip salah seorang "suhu" institusi pendidikan tinggi kartun di Jepang yang berkata, bila sebuah kartun sudah mampu berbisik kepada pembacanya, itu sesungguhnya, sudah tergolong berhasil.

Begitulah. Pertanyaannya lagi, wajarkah bila kita menuntut peran kartunis terlalu besar dan berlebihan, misalnya berharap mereka menjadi ujung tombak demokrasi, agen perubahan atau revolusi, lalu apa peran anggota DPR yang terhormat dan bergaji besar itu?


Darminto M Sudarmo, Pengamat Humor, Tinggal di Jakarta

sumber : http://www.kompas.com/kompas-cetak/0307/20/seni/436069.htm
0 comments


Sebenarnya 2 kartun ini dan ada beberapa lagi yang lain untuk ikutan lomba Digital Media International Cartoonet Contest 2008. Penyelenggaranya irancartoon.com, cuma sayang sekali...seribu kali sayang nangih, saya telat ngirimnya. Jadi dipajang disini sajalah... (mohon maaf kalau penampilannya rada 'diganggu' proteksi 'hak milik' kenyit)


Sedikit cerita untuk kartun di atas, ini terjadi di dunia maya, dunia chat tepatnya. Di dunia maya itu memang kita harus berhati-hati dengan identitas. Pria bisa mengaku wanita dan juga sebaliknya. Yang jadi masalah kalau mau kopi darat...tak sesuai kenyataan.
2 comments



Sepenggal cerita yang tertinggal menjelang 17 Agustus 2008 yang lalu...

Maksud hati syukuran perayaan 17 Agustusan...eh...malah dapat musibah! Keracunan!
Dalangnya atau penyebab utamanya adalah...nasi kotak!
Bagaimana ceritanya? 2 hari sebelum perayaan kemerdekaan RI yang ke 63, tepatnya 15 Agustus 2008, perusahaan tempat saya bekerja mengadakan syukuran 17 Agustus. Biasanya, tradisi tiap tahun, disertai dengan perlombaan. Biasalah, standart 17 Agustusan. Tapi kali ini, tahun ini, tanpa perlombaan, hanya syukuran dengan makan siang bersama, gratis!. Nasi kotak yang isinya nasi kuning, daging ayam, tumis bihun, dan sambel oncom. Ada juga yang isinya abon, bihun, perkedel, telor, dan sambel oncom.
Kejadiannya cepat, pukul 11.30 nasi kotak dibagikan bertahap buat 1000 orang. Sebelumnya ada doa ucapan syukur dulu buat kemerdekaan yang sudah kita rasakan selama 63 tahun. Tak lama kemudian usai menyantap makanan banyak karyawan yang mulai merasakan mual-mual dan pusing. Bahkan ada yang muntah dan pingsan. Data resminya sih total 150 orang yang tumbang (info dari HRD). Kalau baca di koran dan TV berbeda-beda jumlahnya, ada yang bilang 125 orang, ada yang 100 orang.

Untungnya saya tidak apa-apa, baik-baik saja, sepertinya tidak semua nasi kotaknya tercemar, hanya beberapa.
1 comments